November 30, 2008

Betapa ku benci kecoak.

Kalau ada hal yang bisa bikin gue jadi pembunuh berdarah dingin, hal itu pasti:

kecoak.

Gue bukannya gak cinta sama binatang. Gue suka anjing. Gue pelihara burung nuri di rumah. Gue suka ngeliat ikan berenang *ya iya lah, kalo ikannya terbang juga gue jadi jiper*. Gue gak suka bunuh ular *sebenernya sih karena takut. haha*. Tapi entahlah si kecoak ini masuk kategori binatang atau bukan. Kadang-kadang gue menganggap mereka adalah makhluk menyebalkan yang paling jorok. Bayangkan, apa enaknya sih hidup di kamar mandi? Ih. Dan sampai sekarang gue masih bertanya-tanya *dan tidak berusaha mencari tahu*, apa sih makanannya kecoak?

Sebenarnya gak adil kalo gue nyalahin kecoak atas wujud dan kelakuan mereka yang suka semena-mena. Bukan salah mereka sih dilahirkan menjadi kecoak. Tapi sorry ya, gue jijay. JIJAY! huks.

Walaupun sesama makhluk Tuhan tidak boleh membenci, bisa dibilang gue benci kecoak! Tapi di antara semua kecoak, mulai dari kecoak rumahan yang hobi bolak-balik di kamar mandi sampai kecoak Madagascar yang mendadak ngetop gara-gara acara Fear Factor, gue paling benci yang bisa terbang!

Basically, gue benci apapun yang bisa terbang kecuali pesawat dan Superman [ya iyalah secara Superman itu ganteng bo! *pletak!*] Lebih tepatnya, gue benci serangga ukuran jumbo yang bisa terbang, which means gue benci kecoak terbang! *entahlah kecoak itu serangga atau bukan. Nilai biologi gue waktu SMA gak bagus-bagus amat. hehe* Pokoknya gue benci. BENCI! BENCI!
Padahal kalo dipikir-pikir, kecoak terbang adalah kecoak yang terberkati. Iya lah. Bisa TERBANG gitu loh. Gue aja gak bisa terbang.

Tapi tetep aja gue jijay. Yang bisanya cuma lari-lari aja gue jijay, apalagi yang terbang-terbang. Iiiih!
Asumsi gue, dia bisa seenaknya nemplok sana nemplok sini, kayak burung kakak tua nemplok di jendela, nenek sudah tua giginya tinggal dua.
Mending nemplok di tempat yang tak terjamah. Kalo nemplok di salah satu bagian tubuh gue? Hiii.
Dan yah, gue emang pernah punya pengalaman pahit tentang kecoak terbang. Ya apalagi kalau bukan pengalaman ditemplokin dan digerayangi. Iiiih! Cuih! Cuih!

Mungkin selamanya gue gak akan pernah berdamai sama kecoak *apalagi yang bisa terbang*. Kecuali mungkin suatu saat mereka berevolusi jadi kayak Brad Pitt. Gile aje. Mau bolak-balik kamar mandi mah silakan aja. Hahaha.

Nah karena itulah, gue jadi berdamai sama B*yg*n. Itu loh, merk penyemprot nyamuk dan serangga. Nah inilah, kecoak membuat gue jadi pembunuh sekaligus pencemar lingkungan dengan kandungan si b*yg*n yang bikin ozon bolong. Tapi gimana lagi, cuma itu jalan yang bisa gue tempuh. Gue gak bisa jauh-jauh dari si b*yg*n. Dia senjata gue kalo tiba-tiba gue ketemu kecoak *terutama yang bisa terbang*.

Kadang gue berpikir, gue gak boleh sekejam itu. Eksistensi kecoak pasti ada maksudnya. Mereka dilahirkan pasti ada manfaatnya *Selain jadi makanan di acara Fear Factor*. tapi pertanyaannya:
Apakah manfaatnya?

Gue berharap ada kecoak yang baca posting ini. No offense ya, kecoak. Mungkin lo bisa mengubah behaviour lo dan kita bisa berteman baik.

No comments:

Post a Comment

Have any comment? Come on, I know you do! ;)