May 21, 2009

And the winner of American Idol 2009 is...

...the cute talented guy-next-door: KRIS ALLEN! YAYAYAYAY! :D

Want more American Idol videos? Click here.

Hati dan Logika.

Hati dan Logika selalu bersama, tapi tak pernah beriringan. Mereka memilih jalannya yang berbeda. Ya, sebenarnya walau mereka berjalan bersama, terkadang mereka acuh tak acuh. Tak mau bergandeng tangan, bahkan enggan menatap yang di sebelahnya. Seperti bermusuhan. Tapi keadaan menjadikan mereka satu.

Kadang Batin mempertemukan mereka, hanya untuk mengajak bicara. Tapi akhirnya mereka berselisih.
Batin hanya bisa menggelengkan kepala dan memenangkan satu di antara mereka.

Satu. Ya, cuma satu.
Dan biasanya Hati yang berkuasa.

Hati, ia lebih perasa. Tapi ia rapuh.
Logika, ia memang kuat tak terkira, tapi ia tega.

Ah, mungkin selamanya Hati dan Logika tak mampu berjalan beriringan, walau tetap harus bersama.

Suatu hari, Hati dan Logika bertemu di persimpangan.
Hati enggan menyapa, bahkan memalingkan muka.
Sungguh ia tak ingin bertemu Logika yang kejam itu. Dalam pikirnya, Logika cuma satu: kejam.

Logika menyapa, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seolah lupa, pertempuran kemarin, perselisihan terbesar mungkin, dimenangkan juga oleh Hati. Hati yang pulang dengan kemenangan walaupun memar sana-sini.

Memarnya tak hilang juga.

"Hai, Hati, apa kabarmu hari ini?", katanya jumawa.

"Baik", Hati menjawab singkat.

"Mengapa wajahmu masih biru? Masih sakitkah seperti dihujam sembilu?", ada nada mengejek dalam setiap katanya.

Hati hanya tersenyum dan, Logika pun jelas melihat, ada bahagia tersirat.

"Ya. Masih memar. Tapi aku bahagia.", ujarnya singkat.

"Ah, dasar bodoh. Bahagia katamu? Macam bahagia karena luka-luka? Sudah gila rupanya. Apa kamu tak punya logika? Oh iya, Logika itu kan aku."

dan Logika pun tertawa. Keras dan masih jumawa.

"Bilang saja aku gila. Tapi aku bahagia. Cukup untuk mengatasi setiap luka."

dan Hati hendak berbalik pergi.
Tapi Logika menahannya.

"Tunggu! Tunggu. Aku masih ingin tahu. Mengapa kau tak mengalah saja? Ketahuilah. Jika kau saat itu mengalah, lukamu tak akan parah.", Logika akhirnya tak bisa menyembunyikan keheranannya.

"Ya. Memang."

"Lalu?"

"Memang demikian. Tapi aku tak tahu harus bagaimana bertanggung jawab pada cinta, jika aku mengalah.
Aku tak tahu bagaimana harus menopangnya yang mungkin akan jauh lebih terluka, daripada luka yang kutanggung saat ini."

Logika terdiam.
Hati terdiam.
Dan Logika angkat suara.

"Masih tak inginkah kau beri tempat juaramu padaku?"

"Tidak"

"Bilang saat kau mau."

"Tidak akan. Aku harap tidak akan."

"Baiklah", Logika menghela nafas, "Kau mau ke mana?"

Hati tersenyum, jauh lebih ramah dan tulus.

"Ke sana, ke tempat yang jauh di masa nanti. Ke depan. Pokoknya bergerak maju tanpa henti.", ujarnya dengan semangat yang mendadak hadir.

"Aku antar.", kata Logika.

"Tidak," Hati menggeleng. "Kita tetap bersama, namun selamanya kita tak beriringan. Lagipula untuk menuju ke sana ku sudah punya kawan."

"Siapa?"

"Waktu."

"Oh."

"Logika, kelak kita bertemu lagi dalam pertempuran baru. Bersama Batin yang hanya sanggup menggeleng dan mengangguk, dan memilih satu. Lain waktu. Lain kali. Dan kita tak persoalkan lagi perselisihan kemarin ini."

"Baiklah."

"Dan satu lagi," Hati menghentikan langkahnya, "Saat kita bertemu, memar ini pasti tak lagi ada."

"Kita lihat saja," Logika tergelak.

"Ah, kau kan sudah kuberi tahu aku berjalan bersama siapa."

"Siapa?"

"Waktu..."

Logika tersenyum.
Hati juga tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa, Logika."

"Sampai jumpa, Hati."

Dan di persimpangan itu mereka bertemu, dan di persimpangan itu mereka berpisah.

***

180109
Sabarlah, sabarlah sampai masa lalu benar-benar membusuk lalu terurai perlahan.
Sabarlah.

Firstly published on my facebook.

Aku dan Masa Bernama.

"LAMPAU! Mengapa kau terus ikuti aku? Tak bisakah kau berhenti jadi bayang-bayang dan segeralah pulang?"

Aku menghentikan langkahku. Langkah di sela perjalanan menyusuri jalan setapak berliku ini.

Di belakangku masih ada Lampau yang bergerak setiap ku melangkah. Berjalan saat ku berjalan, berlari saat ku berlari, dan mengendap saat ku mengendap.

"Aku muak. Sungguh MUAK. Bisakah kau berbalik dan pergi? Kau kira aku butuh kau di sini?"

Aku masih memaki. Tangan kananku mendekap menopang hati yang meloncat-loncat karena emosi dan tangan kiri.. penuh menggenggam detik, menit, jam, hari..

Lampau diam dan menunduk. Tak bersuara. Aku hendak berkata-kata saat seseorang menepuk bahuku lembut.
Sesuatu.

"Sabarlah," Ujarnya.

Dia yang sejauh ini bergerak di sebelahku setiap ku melangkah. Berjalan saat ku berjalan, berlari saat ku berlari, dan mengendap saat ku mengendap.

Kini.

"Tapi aku tak perlu dia. Tak perlu dia ada SEKARANG. Dia sudah pernah ada dan mengacak-acak AKU."

Kali ini aku terduduk. Terkulai. Aku tak hanya marah. Bahkan mungkin TAK PERNAH marah. Aku hanya lelah.

Dan Lampau tetap tak bersuara. Ia diam sejuta bahasa. Dan tertunduk. Walau tak melihat wajahnya aku tahu ada kesal, terlebih sesal.

Dan Kini pun angkat suara.

"Dia yang telah berlalu tak bisa berpisah darimu. Dan juga aku. Karena dia yang telah berlalu tak seutuhnya berlalu. Ia menjadikanmu, dan terutama menjadikan AKU."

Aku memandang Kini. Dan Lampau. Bergantian. Tak Mengerti. Heran.

Terdiam.

Dan Lampau pun mulai bicara.

"Maafkan aku yang tak bisa lepas darimu. Dan juga Kini. Karena tangis yang kalian lepas di malam-malam diam, kecewa yang belum habis terurai, sakit yang masih perih menyayat.."

"DIAM," Aku tak tahan. "Aku tahu apa yang aku rasa. Aku mengerti dan tak perlu kau jabarkan satu-satu."

"..itu. Karena aku.", Lampau tertunduk sedih. Menitikkan air mata yang sejak tadi menggenang menunggu gilirannya untuk jatuh.

Aku terdiam.
Kini pun terdiam.
Lampau.. Ah, sesungguhnya ia tak layak disalahkan. Dia hanya jadi pengungkung suatu masa. Suatu waktu. Suatu hari di masa lalu..

"Jadi biarlah aku tetap berjalan di belakangmu," Lampau menyeka air matanya dan berdiri. Menghampiriku. "Jika saja aku mampu, aku akan berbalik dan pergi. Tapi aku harus tetap di sini. Tenanglah, aku akan melangkah hati-hati. Dan kau tak perlu berkesah, tak perlu resah. Hanya satu yang kau perlu ingat dan perbuat..", Lampau berhenti. Tepat di hadapanku.

"Apa?" Tanyaku.

"Saat emosimu meletup, dan bibirmu tak lagi mampu terkatup, jangan berbalik. Jangan lihat aku. Jangan ajak aku bicara. Karena kau hanya akan melihat lara, dan perjalananmu ini terhenti. Yah. Seperti saat ini."

Aku hendak bicara saat Kini menggamit lenganku, dan bersenandung.

"Tapi saat semangat menghilang,
saat bimbang,
saat tak mengerti ke mana kaki hendak melangkah,
tengoklah.
tengoklah ke belakang, peluklah ia,
ajak ia bertukar cerita.
Dan pelajari,
Agar tak salah lagi kau ambil posisi"

"Selamanya aku harus begitu?" Aku bertanya pada mereka.

Lampau menggeleng dan berkata,

"Tidak juga. Cepat atau lambat. Tergantung bagaimana kau bertahan untuk tak selalu berbalik dan memaki. Dan bila saatnya tiba nanti, kau akan lihat aku perlahan memudar.."

"Lalu menghilang?" Aku berdiri tersentak.

"Tidak juga. Kau akan lihat Lampau yang lain. Dan bagaimana rupanya, apakah mencinta atau berduka, semua tergantung dari.." Lampau meraih tanganku dan meletakkannya di dadaku, "..sini. Dari sini. Mulai sekarang."

"Siapa dia yang akan datang menggantikanmu saat kau menghilang?"

Diam.

"Aku. Aku kelak akan jadi Lampau."
Dan Kini kini merangkulku.

"Lalu siapa yang akan berjalan di sebelahku?"

"Nanti.."

"Siapa?"

"Nanti.."

"Beritahu aku sekarang."

"Nanti. Ia yang akan kau temui di tengah perjalananmu. Nanti. Namanya sekarang adalah Nanti. Tapi nanti.. ia akan jadi Kini. Terus begitu hingga kau sampai di ujung setapak ini."

"Aku bingung."

Lampau bergerak perlahan dan berdiri di belakangku dan berkata,

"Tak perlu bingung. Kau akan kenal siapa itu Lampau, Kini, dan Nanti. Bukan sekedar masa bernama, kami dan mereka akan berjalan saat kau berjalan, berlari saat kau berlari, dan mengendap saat kau mengendap."

Kini bergerak perlahan dan berdiri di sampingku dan berkata,

"Lampau menghilang, aku jadi Lampau baru, dan Nanti jadi Kini baru. Kau kelak akan mengerti. Selama tangan kirimu masih menggenggam. Masihkah mereka aman di genggamanmu?"

Aku mengintip genggaman tangan kiriku.

"Masih. Masih ada detik, menit, jam, hari.."

Lampau dan Kini serentak berkata.

"Kalau begitu, ayo maju."

Aku mengangguk perlahan.
Sepertinya aku paham.

Aku susuri jalan setapak di bawah cahaya rembulan temaram.
Tangan kiri masih menggenggam.
Dan tangan kanan menyemat harap pada setiap bintang yang kutemui.
Agar saat Kini jadi Lampau dan Nanti jadi Kini,
aku bisa tersenyum sepenuh hati...

***

210109
Untuk Nanti yang masih menanti di suatu tempat di masa nanti.
Dan untuk cinta yang masih terjaga sampai masa itu tiba.

Firstly published on my facebook notes.