November 21, 2009

So this is my little pair of black shoes.

Akhirnya, dengan segala perjuangan dan doa restu, gue beli juga tu sepatu flat hitam impian. hahaha.
Dengan ditemani teman sekampus, sejurusan, sekelas, sekos, senasib, sepenanggungan (lihat betapa panjang titelnya) aka Maria Angela Patricia Wantania (noh lengkap gue Nulisnya, ngel. haha), gue cabut ke Margo City kemarin siang.
Tujuan utama tak lain tak bukan adalah ATM (secara, kalo belanja itu pake duit), dan segera setelah itu kami menuju Centro! yay!

Memilih sepatu bisa dibilang kayak milih pasangan hidup (cieeeh dalem). Tapi iya loh. Layaknya milih pasangan hidup, kita kan pasti mau yang sreg di hati. Kadang-kadang standar sreg di hati itu beda setiap orang (malah mungkin seringkali beda). Belum lagi kalo udah nemu yang cocok, ternyata eh ternyata ada hal yang bikin ilfil. Kalo dalam kasus milih sepatu sih, tentu saja, harga seringkali bikin ilfil. Udah nemu yang bagus, eh harga bikin sakit hati. Hahaha.

Tapi toh akhirnya gue nemu juga tu sepatu. Harganya gak bisa dibilang murah sih. (walaupun ada diskon. *dan 15% bener-bener diskon nanggung =.=) tapi gue puas. lagipula gue menganut paham: every girl deserves a nice pair of shoes. ;)

jadi inilah hasil huntingnya:






N.b special thanks to Angel. next belanja apa ya, ngel? hahaha.

N.b.b atas terbelinya sepatu ini, gue berencana puasa belanja. berencana. puasa. yeah, doakan saja gue kuat T.T

November 20, 2009

Confession of a Shopaholic.

Gue gak tau ini terlambat atau gak, tapi gue baru merasa mungkin gue telah terjangkit virus shopaholic.

Shopaholic. Virus berbahaya yang membuat penderitanya gila belanja. Addicted to shopping. Membuat penderitanya menjadi.. ehm, of course, a shopaholic.

Dan gue menarik kesimpulan itu berdasarkan ciri-ciri yang mendadak muncul di diri gue sendiri. Entah bener atau gak kesimpulan gue itu, tapi tampaknya demikian.

1. setiap kali gue nerima gaji ngajar, gue terlintas pikiran buat membeli sesuatu. entah terealisasikan atau gak, pokoknya itu yang terpikir pertama kali.
2. setiap gue cek facebook, yang pertama gue liat adalah page-nya online-shops.
3. oh dan gue memang mengelompokkan para online-shop itu dalam satu grup sendiri, jadi gue bisa liat news-update mereka dalam satu page.
4. gue punya satu langganan online shop di facebook dan 2 minggu belakangan ini, setiap dia upload foto-foto koleksi terbaru, gue pasti beli. *minggu ini ada yang baru lagi dan gue sangat memohon pada Tuhan, semoga gue diberi kekuatan :(
5. pada saat gue belanja di pikiran gue adalah: gue butuh ini kok, ini investasi. tapi setelah itu, baru disadari sebenarnya tidak. *they're still cute though ;p
6. perasaan pada pra-belanja, belanja, dan pasca-belanja sangat beda. pra-belanja adalah di mana saat gue merencanakan membeli sesuatu, dan itu bisa terbayang-bayang terus loh. yeah, bahkan sampe kebawa mimpi. masa belanja adalah masa yang seru. sensasi milih, nyoba, ah.. bener-bener gak bisa diungkapkan. dan pasca-belanja? well, puas sih. tapi ibarat orang makan terus kenyang, ya udah. that's all. gak ada perasaan menggebu seperti sebelumnya. dan ibarat orang yang lapar lagi dan makan lagi, pra-belanja dan belanja yang selanjutnya bikin excitement itu muncul lagi.
7. window shopping can be a cause of nightmare. u know, it makes us want something so bad. arrgh!
8. gue merasa sangat mudah di-persuade untuk beli sesuatu.
9. gue tau loh toko-toko mana aja yang reliable untuk ukuran kualitas dan harga, terutama online-shops. *well perhaps this one is positive haha.
10. i can easily change my desire. mungkin tadi gue pingin beli sepatu. tau-tau beberapa jam kemudian gue terpikir pingin beli shawl. lalu besoknya gue terpikir pingin beli blazer. eh gak taunya yang dibeli malah sweater. dan yang lainnya? pending, BUKAN cancel.

and last but not least (and perhaps the numbers will keep growing)
11. SALE is a really sacred word! padahal kadang sale juga ada yang boong. logikanya, gak mungkin lah si toko gak dapet untung, alias jual balik modal atau rugi, kecuali barangnya udah gak layak. kadang, sale itu adalah potongan dari harga yang jauh lebih mahal dari harga asli. and what we get after sale? well, the real price. tapi tetep aja, kata SALE ini menggoda sekali ;p

well, gue berharap gue bukan tingkat akut. dan gue merasa, gue belum mencapai tingkat akut kok. bukan 'belum' deh, melainkan 'gak' (ngeri juga jadinya). tapi ibarat seorang alay yang tidak merasa dirinya alay (maaf ya, gue bingung cari perumpamaan lain. hehehe), gue takutnya gue udah mencapai tingkat berbahaya tapi gak sadar.

gak gitu kan, teman-teman? gak kan? beneran gak kan? jawab donk.. jawab.. (sambil menangis-nangis terngesot-ngesot ala sinetron)

now the question is: why. why do i love shopping?
oke, kalo alasan gue sendiri, belanja itu punya sensasi sendiri. kayak yang tadi gue jabarkan di poin nomor 6 sih. milih-milih barang sampe menjatuhkan pilihan di satu yang pas dan sreg di hati itu bener-bener exciting!

but here, my question is why. why should so?

kayaknya gue dulu gak gini-gini amat deh perihal belanja.
dan sejujurnya, gue gak menyarankan lo semua untuk.. yah, doyan belanja.

shopping. what is it?
is it a reflection of never-satisfied human? or is it just.. well, plain hobby?
what is it about?
having the stuff? or is it actually the great feeling of hunting it?

November 16, 2009

Merealisasikan mimpi.

Udah baca kan posting gue tentang mimpiin sepatu? Iya, yang saking pinginnya gue beli sepatu flat warna hitam, sampe kebawa mimpi. Pokoknya sekarang gue bertekad merealisasikan mimpi itu. Gue bakal beli sepatu itu! By this Friday!

..with my own money.

Yeah. Jadi sebenernya cerita si mimpi berlanjut di dunia nyata. Pas bangun pagi-pagi, sambil gotong royong membersihkan rumah (kan hari Minggu tuh ceritanya), gue iseng melobi bokap.
"Tadi malem Sekar sampe mimpi flat shoes item loh..", kata gue dengan nada suara bagi-duit-donk.

"Ya beli donk. Nabung sana", jawab bokap santai sambil nyikat sepatunya.

Yeah.

Nabung
. Beli sendiri.

Sejujurnya gue gak mendadak jadi ngambek atau apa, tapi itu merupakan suatu tamparan buat gue. Oke, lebay deh kata-katanya. Maksud gue, dengan mendengar kata-kata bokap (yang notabene sudah kebal sama wih list anaknya. Haha), gue jadi malu sendiri. Yah, apalah arti sebuah flat shoes hitam. Gue kan bisa tetep hidup tanpa dirinya. Gue kan gak bakal kekurangan oksigen tanpanya. Gue kan tak akan kelaparan tanpanya. Gue kan.. kan.. kan.. *plaak!* (ditampar ala sinetron)

Bukan, bukan maksud gue terus gue jadi gak pingin flat shoes lagi. Tapi menyadari prioritas si flat shoes yang notabene, oke lah penting (buat gue) dan lagi bener-bener dipinginin, tapi termasuk kebutuhan tersier, tampaknya akan lebih indah kalau gue mengusahakannya sendiri.

Yeah. Seperti kata bokap tadi: Nabung. Beli sendiri.

Dan gue percaya bahwa bukan kebetulan setelah itu gue nerima telepon dari bimbel tempat gue ngajar (Mengajar. Jangan ditambah 'h' di depan 'ajar'). Minggu ini gue dijadwalkan ngajar 3 sesi. Tiga, men, tiga. Tiga kelas. Tiga kali satu setengah jam. Gue gak akan bilang bayarannya berapa (rahasia donk hahaha), tapi yang jelas bisa lah buat beli sepasang flat shoes hitam yang sampe gue mimpiin itu. Hore! At least gue gak perlu nabung. Muahahaha (evil's laugh). Mmmh.. mungkin sedikit irit sih, but not a big deal lah. Demi sepatu di dalam mimpi! Ha!

Hari ini gue udah nyelesein satu sesi (dan sudah dibayar untuk itu. muahahaha), masih ada dua sesi lagi untuk besok. Well, jarang-jarang deh gue begini. Semangat kerja demi sesuatu. Bukan berarti hari-hari biasa gak semangat loh ya.. Kali ini kan spesial. Ada special purpose-nya. Haha.

Yang jelas, gue yakin the coming-soon flat shoes itu akan terasa lebih manis karena berasal dari jerih payah gue sendiri.

Wait wait..
do flat shoes have any chocolate favor or what? *pletak!*

No more Warna-Warni.

What else can I say?

I've changed my blog's name.

Mmmh. Bukan sesuatu yang istimewa, nor a big deal. Karena gue udah beberapa kali sih mempermak blog gue, termasuk judul dan deskripsi blognya.

Kali ini terdengar (atau terbaca?) lebih simpel, dan straight to the point. :)

Anyway..


..


..


no more anyway. I don't feel like writing today. Uh. Bencana :(

November 15, 2009

Aku ingin bertobat.

Baru saja terjadi percakapan by fb chat bersama seorang teman.

Seorang teman (SO)
Gue (GW)

SO: Udah ngerjain tugas belum?
GW: Tugas yang mana?
SO: Itu loh, bikin review film.
GW: Oh iya ya. Buat kapan sih itu?
SO: Minggu depan sih.
GW: Oh masih lama. Nanti aja deket-deket deadline.

Oke, mari kita highlight di bagian "Tugas yang mana?", "Buat kapan sih itu?", sama "Nanti aja deket-deket deadline"

Sekarang renungkan. Mahasiswa macam apa yang melontarkan pertanyaan macam begitu? Emangnya dia ke mana pas si dosen ngumumin tugas itu? Dan kenapa harus nunggu sampe deadline?

Astaga. Aku ingin bertobat..

Sampe kebawa mimpi.

Tadi malam gue mimpi tentang..

..sepatu.

Iya, sepatu.

Tepatnya, gue yang muter-muter mall demi membeli sepasang sepatu.

Menurut gue, ini termasuk mimpi paling horor yang pernah ada. Bukan berarti terus sepatunya berubah jadi monster bau yang ngejar-ngejar gue sih. Bukan berarti juga gue belanja sepatu sambil dikejar-kejar pembunuh berdarah dingin. Mimpi semalem bener-bener keinginan gue belakangan ini. Beli sepatu. Flat shoes berwarna hitam.

Pengalaman gue, kalo sampe kebawa-bawa mimpi berarti gue bener-bener pingin. Apalagi mimpi yang satu ini. Gila. Bener-bener spesifik. Gue mimpi keliling mall, masuk toko sepatu satu demi satu. Herannya, dari sekian banyak flat shoes hitam, dari yang dipajang di toko-toko sampe yang diskon (iya, di mimpi gue ada diskon! gila), gak ada satu pun yang gue beli. Representasi dunia nyata kah? Karena gue belum sempet beli flat shoes hitam kah?

Yang weird lagi, semua sepatu berkisar antara 190ribuan-250ribuan. Iya, gue inget banget nominalnya. Pertanyaan gue: kenapa? Kenapa harus sepatu dengan harga-harga sedemikian pasti begitu? Ditambah lagi, gue bisa liat dengan jelas model-modelnya. Biasanya sih, mimpi itu kan blur. Ya tergantung antena juga sih. Luar atau dalem. (ini ngomongin TV atau mimpi?)

Satu hal lagi, ini bukan pertama kali gue mimpi begini. Sudah beberapa kali gue mimpi keliling mall buat cari sepatu. Flat shoes. Hitam.

Am I having such a great desire or what? :|



yang beginian ni sampe kebawa mimpi =.=

November 14, 2009

Jangan bikin mie goreng instan pake microwave.

Logikanya, siapa sih yang bikin mie goreng instan pake microwave? (saya! saya!)

Jadi ceritanya, tadi gue kelaperan berat karena seharian belum makan, baik makan pagi maupun siang. Akhirnya perut berkoar makin hebat dan gue pun ngacir ke dapur cari makanan. Bukannya menemukan lauk layak makan, gue malah nemuin nasi secuil di rice cooker. Mau masak-masak dikit, nyalain kompornya males (emang ya, kalo males tu sama sekali gak bawa anugerah). Akhirnya gue menemukan ide kreatif (baca: jalan pintas) yakni masak mie instan pake microwave. Yeah, gue pernah sesekali sih masa mie instan rasa ayam bawang pake microwave (maksud gue, masaknya di microwave, bukan dimakan pake microwave), jadi tau lah gimana step-stepnya supaya itu mie minimal mateng dan layak makan. Gue akhirnya mengaduk-aduk persediaan mie instan di dapur, dan menemukan ide lebih kreatif lagi. Kali ini gue akan masak mie goreng instan pake microwave.

Mie goreng. Instan. Pake microwave.

Di mana letak logikanya? Kalo mau logis, namanya mie goreng ya digoreng. Tapi dipikir-pikir lagi, kalo masak mie goreng instan di atas kompor juga gak bener-bener digoreng kan ya. Jadi basicnya pasti sama lah kayak mie instan kuah yang lainnya. Sebenrnya sepele sih kenapa gue dapet ide masak mie goreng instan. Soalnya mie goreng instan itu ukuran jumbo. Pembelaan gue, gue tadi kelaparan berat. Wajar donk. (padahal biasanya sih juga jumbo. haha)

Singkat cerita, akhirnya gue masaklah itu mie goreng instan di dalam microwave. Simpel sih, mie dimasukin ke dalam mangkuk (tahan microwave loh ya) dan dikasih air. Set waktu plus panas-nya, tinggal tunggu. Gue pun meracik bumbu-bumbuannya di piring sambil nunggu mie mateng. Oke, gue gak yakin apa itu namanya mateng, secara microwave gitu loh.

Akhirnya, setelah timer berhenti, gue keluarin lah itu mie dari microwave. Perasaan gue sih agak gak enak ya. Secara namanya mie dimasukin dalam microwave jadi mengembang-ngembang gak wajar. Tapi emang biasanya gitu, jadi ya gue terusin aja. Gue campur lah mie instan goreng itu plus sedikit nasi (beneran sedikit kok, teman-teman. cuma 4 sendok kok. 4 sendok nasi maksudnya haha), dan gue makan sambil nonton Hannah Montana (ups ketahuan deh. *seolah-olah nangkring di Disney Chanel adalah rahasia)

Dan mau tau rasanya? Gak enak, sodara-sodara. Suapan pertama, kedua, ketiga,.. masih baik-baik saja. Lama-lama gue jadi eneg berat. Padahal biasanya fine-fine aja kalo gue memperlakukan mie instan kuah. Jadi gue bisa narik kesimpulan:
1. Mie itu mengembang gak wajar tapi sesungguhnya gak matang sempurna. Kalo mie instan kuah sih masih mending, soalnya kan masiha da kuah panasnya. Kalo mie goreng kan kuahnya gak dimakan juga. Jadilah rasanya agak-agak aneh.
2. Mie goreng jumbo mengembang plus nasi jelas bukan komposisi wajar. Pantes aja jadi bleneg.

Jadi, teman-teman, pesan gue untuk lo semua:
1. jangan masak mie goreng instan pake microwave. Atau untuk simpelnya, perlakukan mie goreng dengan selayaknya: rebus, tiriskan, campur dengan minyak, kecap dan bumbu-bumbu lainnya.
2. jangan kalap.

Huh, tau gini mending gue nyeplok telur aja deh tadi..

Oh Facebook, you're my brand of heroin.

Apakah lo doyan online? Apakah lo bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer? Apakah lo jaga warnet? Wajar kalo begitu. Tapi sekarang gini, apakah lo lebih banyak menghabiskan waktu di salah satu situs jejaring teman yang belakangan ini semakin naik daun (terbukti dengan semakin marak alay bertebaran di dalamnya)? Bukan, gue bukan bicara tentang ulat (ulat kali naik daun), gue berbicara tentang:

*drumroll*
Facebook!
*casss*

Lo boleh berdalih, boleh mengelak, boleh ngeles, boleh apapun saja yang artinya sama kayak kata-kata itu, tapi siapa tahu ternyata Facebook udah menjadi bagian penting dari hidup lo. Lo udah kecanduan, dan Facebook lah candunya; Your brand of heroine (ah sedaaap). Jadi, untuk langkah antisisapi, eh maksud gue.. antipisasi, eh maksud gue.. antisipasi, lo bisa baca ciri-ciri Facebook addict berikut ini. Atau mungkin lo merasa cukup ingin tahu saja, tak perlu tempe ataupun hati ampela, bisa pergi ke warteg terdekat (?). Maksud gue, kalo lo cuma pingin tahu aja apa ciri-cirinya, juga bisa baca. Apakah ada 1 ciri yang melekat di diri lo? Atau justru semua? Here we go:

*drumroll lagi*
Ciri-ciri Kecanduan Facebook

1. Bangun tidur ku terus facebook-an.
Nah ini dia. Kalo lo udah mulai seenak jiwa ganti lirik lagu 'bangun tidur kuterus mandi', kemungkinan besar lo udah kecanduan Facebook. Bahkan mungkin liriknya buat lo berubah jadi 'bangun tidur kuterus facebook-an sampai lupa mandi'. Gue gak akan men-judge elo apakah ini baik atau buruk buat kesehatan lo. Yang jelas, ini sangat berbahaya buat kesehatan orang-orang yang serumah atau sekamar sama lo. Ya iya lah, emangnya enak nyium bau orang gak mandi dari pagi? Nah fenomena buka facebook di pagi hari, bahkan kadang mendahului ngulet ini (atau bahkan mendahului buka mata? wow. Facebook bisa bikin lo secanggih Deddy Corbuzier), gak cuma lewat komputer loh. Sekarang kan ada opera mini yang bisa bikin lo online facebook secara mobile. Moreover, tersedia juga BB (BlackBerry) atau BBB (Bukan BlackBerry *tapi mirip*) yang bisa mendukung kegiatan per-online-an lo di mana saja, kapan saja. Jadi apakah lo termasuk pengguna facebook di pagi hari?

2. Gak pake bangun tidur kuterus facebook-an.
Nah kalo yang ini lebih ekstrim dari ciri pertama. Gak pake bangun tidur ku terus facebook-an. Gimana mau bangun tidur, wong tidur aja gak. Istilah lain adalah "begadang bersama facebook". Gak peduli libur, gak peduli besoknya sekolah, kuliah, atau ke kantor.. kegiatan per-facebook-an jalan terus menerjang waktu! Gue juga gak mau nge-judge sih, apakah kurangnya jam tidur akan berakibat buruk terhadap kesehatan lo, cuma jelas ini akan berbahaya bagi keselamatan komputer, ponsel, BB, atau BBB lo. Mungkin, kalo mereka bisa ngomong, mereka bakal minta ampun sama lo (lebay). Dan mungkin kalo mereka punya tangan dan kaki, mereka bakal ngeroyok lo sampai babak belur. Jadi, apakah lo termasuk kategori kalong pengguna facebook?

3. Satu hal yang terlintas saat ngegebet orang: "Eh dia punya facebook gak ya?"
Satu lagi hal yang paling mendasar saat lo sudah kecanduan facebook, facebook menjadi sarana penting dalam urusan gebet menggebet orang. Kalo facebook adalah hal pertama yang lo cari dalam menggebet sang gebetan, bahkan mendahului nomor handphone atau alamat rumah, bisa jadi lo memang kecanduan facebook. Tentu saja ini berlanjut dengan meng-add si gebetan, harap-harap cemas sampe diconfirm, terus lanjut wall-wall-an, lanjut chatting di facebook, atau bahkan mungkin sampe jadian lewat facebook juga. Well, jika demikian, kemungkinannya adalah lo dan gebetan lo sama-sama kecanduan facebook.

4. Diremove atau diignore? Kiamat!
Seringkali fasilitas remove atau ignore jadi sesuatu yang keramat buat para pengguna facebook, apalagi yang udah kecanduan. Ibaratnya, remove atau ignore facebook sama dengan remove atau ignore dari dunia nyata. Padahal, kalo dipikir-pikir, siapa tau kan orang yang bersangkutan gak sengaja menghapus atau kepencet tombol ignore? Siapa tau kan? Nah, kalo lo termasuk yang kelabakan setelah diremove atau diignore, bisa jadi lo adalah salah satu pecandu facebook. (Tolong jangan remove saya setelah baca posting ini, teman-teman! Tolong!)

5. Ganti status dalam hitungan detik (oke, gak seekstrim itu sih)
Kalo lo termasuk orang yang suka ganti-ganti status facebook dalam jangka waktu relatif singkat, bisa jadi lo kecanduan facebook. Logikanya, mengupdate status adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan pengguna facebook, apalagi di saat temen-temen yang lain pada gak online. Jadi kemungkinannya, daripada bengong gak ngapa-ngapain pas online facebook, akhirnya lo ganti status (bukan ganti kegiatan selain facebook-an). Atau selain itu, facebook jadi hal yang gak terpisahkan dari hidup lo. Jadi logikanya, apapun yang lo lakukan, lo merasa perlu buat nulis itu di status facebook. Sah-sah aja sih, facebook facebook lo gitu loh. Kalo termasuk yang rajin update status, bisa jadi lo adalah salah satu pecandu facebook.

capek bacanya? atau sudah ngerasa kalo lo kecanduan facebook? atau tergerak mau mandi setelah baca ini semua? (ketauan ya facebook-an sampe lupa mandi). Tenang, masih ada lagi kok ciri-cirinya.

6. SMS? Wall aja deh.
Alih-alih sms, lo malah nge-wall temen lo. Ini bisa jadi salah satu ciri kecanduan facebook (atau salah satu ciri kehabisan pulsa sih sebenernya). Ada contoh kasus ni. Temen gue, sebut saja X, suatu hari marah-marah dan curcol. "Ih sebel banget deh sama si Y. gue nitip tugas ke si Y buat di print, dianya lupa. Alasannya dia gak sempet buka facebook." (halo? apa hubungannya ya?) Oh rupa-rupanya si X ini meng-email essay yang mau dia titip ke Y buat di-print. Terus gimana cara ngasih taunya? Dia wall ke facebook si Y, sebagai pengganti sms. Bah. Gue cuma geleng-geleng kepala (ya iyalah, masa geleng-geleng tangan). Jadi, kalo lo memiliki asumsi wall facebook bakal lebih cepat sampe dari SMS, bisa jadi lo udah kecanduan akut.

7. Tuker-tukeran bahan kuliah, mulai dari bahan PK Australia sampe Morfologi, lewat notes facebook.
Terimalah, teman-teman Inggris-ku. Kita semua memang kecanduan facebook. Hehehe.

8. Facebook jadi faktor pendukung lo jadi deadliner.
Oke, oke, gue ngaku kalo yang satu ini berdasarkan pengalaman pribadi gue yang paling hakiki. Yap, sadar atau gak (lebih seringnya pasti sadar sih), facebook jadi salah satu faktor pendukung karir lo sebagai deadliner alias last minute person alias tukang nunda-nunda. Biar kata microsoft word udah kebuka, tetep aja jendela facebook lebih sering kebuka dan akhirnya sang tugas pun dikesampingkan. Biasanya lo akan sampai di satu titik yang mengingatkan lo bahwa sang tugas harus dikumpulkan dalam hitungan jam, kemudian serius ngerjain sang tugas secara kejar tayang sampai selesai. Setelah itu? Ya facebook-an lagi. Sampe pagi kalo perlu. Hahaha. Apakah lo salah satu deadliner yang kecanduan facebook? Mari kita renungkan bersama-sama.

9. Mendadak gamer.
Jangan salah, facebook tidak hanya berkisar antara update status, nulis wall, nulis notes, upload foto, belanja online (ups, itu sih gue. hehe). Yang satu ini juga merupakan fasilitas facebook yang populer. Apalagi kalo bukan game. Kalo lo mendadak jadi gamer sejati yang nongkrongin facebook berjam-jam buat main game, lo termasuk kecanduan facebook. Ya walaupun spesifiknay lo kecanduan game, tapi tetep kan itu game ada di facebook. Termasuk saat lo niat wall, chat, atau (dengan kesadaran penuh) sms temen-temen lo yang ada di list lo untuk sekedar meng-accept invitation game lo, supaya lo bisa nambah poin atau bisa maju ke level selanjutnya.. yah bisa dipastikan lo kecanduan (game) facebook.

10. Lo baca posting ini lewat notes facebook, bukan blog gue.
Gotcha! Posting ini aslinya gue publish di blog gue. Nah, gue pake fasilitas import blog gue ke notes facebook secara otomatis. Jadi apakah lo baca ini di notes facebook atau blog gue? (Sebenernya ini juga bisa jadi ciri gue kecanduan facebook - merasa bakal lebih banyak yang baca kalo di-post ke facebook =.=)

So, apakah ada salah satu ciri yang melekat di diri lo? Atau semua? Apakah lo lagi senyum-senyum sambil ngangguk-ngangguk (karena setuju bahwa lo salah satu pencandu facebook) atau sambil geleng-geleng (karena tak percaya bahwa ternyata lo pencandu facebook) Pesen gue cuma dua: 1. hati-hatilah karena facebook mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, dan 2. Add fb gue donk, ciiiiiyn... *pletak*

BBB.

Oke, lupakan sejenak permasalahan YM imbisil yang gue bahas di posting gue sebelum ini. Kali ini gue akan membahas hal yang lebih penting. Oke, mungkin kedua lebih penting. Ketiga deh. Oke, mungkin gak penting sama sekali. Kali ini yang gue bahas adalah BBB. Bukan, ini bukan tentang 4 remaja labil yang hobi putus sambung kayak listrik PLN akhir-akhir ini. Ini adalah tentang bau. Tapi bukan yang biasa. Inilah.. jreng jreng jreng.. Bukan Bau Biasa.

Tuh kan, judulnya aja udah gak penting =.=

Penting gak penting, gue akan membahas tentang bau-bauan yang menurut polling itu bukan bau biasa. Mulai dari yang harum banget sampe yang busuk banget. Mulai dari yang fresh banget sampe yang basi banget. Mulai dari yang menginspirasi sampe yang bikin pingsan. Yah, minimal menurut polling pribadi gue. Seluruhnya ada 4 bau. Bukan, bukan berarti gue nyamain sama jumlah personil sang 4 remaja labil itu loh. Melainkan bisa dibilang gue emang sengaja. Ok. Here we go!

1. Bau Badan.
Entah kenapa gue menaruh hal keramat ini di nomor 1. Yang jelas gue teringat dulu jaman gue masih kuliah di sosiologi dan pulang-pergi Pamulang-Depok, belum mengenal kos-kosan. Satu-satunya alat transportasi yang tersedia menuju Depok (baca: bis) adalah bis ungu bernama (kita sebut saja) Debby. Nah si Debby ini adalah bis yang bisa dibilang cukup tidak manusiawi, kalo gak bisa dibilang sangat tidak manusiawi. Kadar ketidak-manusiawi-annya semakin bertambah pada jam-jam pergi dan pulang kantor maupun kuliah. Padatnya ampun-ampunan, orang-orang dipaksa masuk kayak ikan sarden dalam kaleng yang udah kadaluarsa. Lalu hubungannya sama bau badan? Apakah supirnya bau badan? Atau keneknya? Gue gak sekreatif itu sih nyium-nyium bau supir sama si kenek, tapi yah.. gue terpaksa (sekali lagi: terpaksa) mencium bau orang-orang terdekat di sekitar gue. Nah, ini dia. Inilah dia di mana yang namanya bau badan amat sangat menyiksa, sodara-sodara! Beberapa kali gue terjebak bersama orang yang bisa dibilang berbau kurang sedap (alias bau badan). Dan dengan perjalanan ke Depok yang kalo macet bisa 2 jam sendiri, gue bener-bener nyaris semaput. Akhirnya sampe kampus, kuliah berantakan. Hidup bisa jadi gak karuan dan lulus nanti jadi pengangguran. Betapa bau badan membawa sengsara! Mungkin atas dasar pengalaman bersama bau badan (bau badan orang lain, maksudnya) gue terinspirasi menulis bau badan di nomor 1. Sebenernya gak usah di Debby yang crowded dan bikin orang yang satu dengan yang lain berjarak setengah jengkal, bau badan kadang bisa bikin semaput orang yang berjarak 10 meter (bau badan dinosaurus, misalnya) Intinya, bau badan tuh bener-bener.. ah sudahlah, gak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

2. Bau Hujan.
Mungkin bisa disebut juga bau hujan yang menyapu tanah gersang (aseeeeek) Nah, kalo yang ini bau yang bikin gue nyaman. Apalagi ditambah udara yang dingin karena hujan. Bawaannya jadi pingin tiduran di balik selimut seharian (sebenernya bikin nyaman atau bikin males ya?) Selain itu, bau hujan bisa membawa gue mengarungi waktu (beras kali dikarungin). Gak tahu kenapa, gue suka terbayang-bayang masa lalu, yakni waktu gue masih kecil, waktu gue masih doyan makan (sebenernya sampe sekarang itu mah), main rumah-rumahan, main masak-masakan, main dokter-dokteran, main pukul-pukulan, main kebut-kebutan... (gila. kecil-kecil cadas). Gak tau kenapa, bau hujan bisa bikin fresh ingatan gue. Mungkin itu alasan kenapa gue lebih prima ngerjain ujian saat hujan. Jadi jangan salahkan gue kalo ujian berantakan saat musim kemarau (ah alesan). Yah, bau hujan emang bisa membangkitkan sejuta memori, termasuk ngingetin gue akan jemuran yang belum diangkat.

3. Bau Ayam Goreng Kalasan.
Ok, sesungguhnya gue suka semua bau makanan. Apapun itu asal makanan, terutama saat kelaparan. But to make it more specific, gue suka banget bau ayam goreng kalasan. Baunya khas, beda dari ayam goreng biasa. Gue gak tau pasti sih apakah semua bau ayam kalasan di dunia ini sama, tapi yang sering gue cium (baunya) adalah ayam goreng kalasan Mas Roni-nya kantin sastra alias kansas. Bener-bener deh, baunya nendang banget! Kadang-kadang gue udah kenyang cium baunya doank (boong ding). Kadang sebelum makan pun gue cium-cium dulu baunya. Menikmati gitu ceritanya. (cukup, jangan dibayangkan. gue kok jadi jijay juga ya hahaha). Makanya kalo makan ayam goreng kalasan Mas Roni, gue lebih suka kalo dibungkus. Masalahnya, kansas baunya ajaib, campuran dari segala macam bau, mulai dari bau-bau makanan sampai bau-bau manusia. Benar-benar merusak kemuliaan bau ayam goreng kalasan. Maka dari itu, menurut gue tempat kompatibel makan ayam goreng kalasan adalah sejauh mungkin dari kansas. Dan tentu saja sejauh mungkin dari WC. Oke, kalo yang terakhir ini berlaku untuk semua makanan.

4. Bau (Apapun yang) Kebakar.
Bau ini juga termasuk bukan bau biasa. Ya jelas lah bukan bau biasa, bau kebakar gitu loh. Pasti ada benda yang kebakar dan kecuali lo adalah pemadam kebakaran atau tukang sate, itu bukan bau biasa. Buat gue, bau kebakar menimbulkan 3 efek: aware, parno, dan ngerecokin bokap dan nyokap. Kok bisa? Contohnya, gue inget banget waktu itu gue lagi asik-asiknya nonton TV di kamar gue. Tau-tau kecium bau-bau kebakar, plus efek-efek asap mengepul-ngepul yang datangnya dari ruang keluarga. Gue langsung aware karena pasti lah ada yang gak beres. Dan ternyata benar, rupanya TV di ruang keluarga sudah mengepul-ngepul. Selanjutnya apa yang gue lakukan? Nah ini lah penyakitnya. Gue parno. Parno di sini jangan diartikan sebagai paranoid ya. Mungkin lebih tepatnya panik berlebihan. Alih-alih nyabut listriknya, gue malah gedor-gedor kamar bokap-nyokap. Contoh lain, waktu itu gue lagi asik-asik online. Waktu itu kejadiannya pas setelah mati lampu. Tiba-tiba gue cium bau kebakar (iya, selalu gue, sodara-sodara. Entah apakah idung gue ketuker idung anjing pelacak) dan langsung aware. Dan kali ini datangnya dari kamar bokap nyokap gue. Pas gue intip, rupanya tempat lilin yang semula dipake naruh lilin (ya iya lah) kebakar. Akhirnya, bisa ditebak, gue langsung parno dan teriak-teriak bangunin bokap nyokap yang entah kenapa bisa tidur nyenyak. Jah. Tenang, tidak ada korban jiwa kecuali jiwa nyokap gue yang tak tenang setelah melihat ternyata handphone-nya sempet kebakar dikit. Fantastis. Tapi itu sudah lewat, semua sudah berlalu. Sejak saat itu setiap gue cium bau kebakar gue selalu ngingetin nyokap: "awas handphone-nya". Dan tentu saja gue menjadi semakin waspada demi nusa dan bangsa.

Demikianlah 4 bukan bau biasa (yang sesungguhnya juga bukan bau luar biasa) yang memenuhi standar bau-bauan gue. Sebenernya ada lagi sih satu bau yang efeknya lebih dasyat, bikin rumah gempar karena omelan nyokap. Apalagi kalo bukan: bau gue dan adek gue yang belum mandi. Hehe.

November 13, 2009

Kisah si YM butut (atau komputer butut? Atau virus butut? Atau sop butut? hmmm *pletak)

Belakangan ini gue suka kesel sendiri sama Yahoo!Messenger alias YM. Spesifiknya, YM-komputer-rumah-gue. Spesifiknya lagi, YM-komputer-rumah-gue-yang-ada-jaringan-internetnya. Spesifiknya lagi, YM-komputer-rumah-gue-yang-ada-jaringan-internetnya-yang-kadang-suka-lelet-sendiri. Spesifiknya lagi, YM-komputer-rumah-gue-yang-ada-jaringan-internetnya-yang-kadang-suka-lelet-sendiri-jadi-kapan-ya-bokap-nyokap-beliin-modem-buat-laptop? *loh kok jadi ke situ ya?* Ya intinya gue lagi kesel, mangkel, pegel, wesel, parsel, whatever you name it, sama YM gue. Jadi ceritanya si YM suka iseng ngirim-ngirim instant message sendiri ke daftar kontak gue, alias daftar temen-temen gue di YM, pake bahasa gak jelas plus link gak jelas pula. Yang lebih gak jelas lagi, di saat gue lagi online di YM dan chatting sama temen gue, bisa-bisanya tu instant message muncul sendiri. Annoying! Kalo udah begitu, gue cuma bisa melongo dan sedetik kemudian nulis pesen ke temen-temen gue: "waduh, maap ya. tadi itu bukan gue tapi virus laknat". Temen-temen gue yang pengertian bakal jawab oke, dan temen-temen gue yang kurang ajar bakal menertawakan penderitaan gue. Nasib.

Oke, gue akuin gue gak jago masalah gini-gini. Oke lah kalo urusan ngutak-ngatik facebook, twitter, blog, gue bisa. Tapi kalo urusan per-spam-an dan dunia per-virus-an gue cukup blank. Tapi bersyukur ada Om Gugel, paling tidak gue nemu sedikit pencerahan ada apa dibalik penyakit YM gue.

So, basically YM gue bermasalah karena komputer gue bermasalah. Komputer gue bermasalah karena komputer gue bervirus. Dan tentu saja komputer gue bervirus karena antivirusnya basi. Antivirusnya basi karena jarang diupdate. Dan jarang diupdate karena sang empunya (baca: gue dan adek gue) cuek urusan begini. Cuek atau agak ngeblank ya?

Yah apapun itu, akhirnya berakibat YM gue jadi mendadak ajaib gini. Suka ngirim-ngirim pesan berbahasa aneh. Entah bahasa planet bumi belahan mana. Belahan jiwa, mungkin. Dan si virus gak sopan ini bener-bener gak menghargai disiplin ilmu gue. Minimal pake Bahasa Inggris kek biar gak nyusahin. Bolak-balik gue ganti password, gak ngefek juga. Lagian gue tahu sih, sepertinya ni komputer emang harus dipermak. Ganti password doank gak mempan. Ganti komputer mungkin mempan (ngarep).

Jadi, buat teman-teman yang ada di list gue dan suka dapet pesan-pesan dalam bahasa gak jelas (kecuali lo mahir berbahasa gak jelas) plus link gak jelas, jangan sekali-sekali dihiraukan. dua kali-dua kali dihiraukan pun jangan. Apalagi tiga kali-tiga kali. Dan buat yang bisa bantu permasalahan ini, diharapkan dengan sangat komennya. Jangan hanya berupa ucapan dan karangan bunga saja. Mohon doa restu.

Salam.

November 12, 2009

Kisah si ponsel

Kemarin malam terjadilah sebuah kejadian yang menjadikan sesuatu yang menggemparkan (ok, intinya terjadi sesuatu yang menggemparkan). Ponsel gue (biasa di sebut handphone, tapi cintailah bahasa Indonesia ya, teman-teman *pletak*) meloncat dengan indahnya dari atas tempat tidur menuju lantai kosan berkarpet biru itu. Seandainya dia lagi ikut lomba loncat indah (wait, sebenrnya tuh loncat apa lompat ya? Gue bener-bener belum bisa bedain nih. Haha), dia pasti sudah jadi juara. Fantastis. Bombastis. Spektakuleris. Dan gue cuma bisa menganga sambil teriak dalam hati, "OMJ (Oh Michael Jackson), itu handphone gue". Sedetik kemudian gue cuma bisa meratapi ponsel putih-oren yang tergeletak tak berdaya, dan bolak balik gue coba buat memberi nafas kehidupan lagi. Masih nyala. Oh syukurlah. Lalu gue geletakin dia begitu saja, dan kembali ke kegiatan gue sebelumnya.

Euforia sesaat? Jadi cuma segitu doank care-nya gue ke si ponsel mungil tak berdosa itu? Jadi hanya sampai sini saja cintamu, Maria? Oh, kembalilah saja kau pada Alfonso.. (loh?)

Bukan gitu juga sih. Tapi emang si ponsel udah berkali-kali jatuh. Kalo boleh ambil tagline iklan salah satu iklan sabun cuci: "Gak Kotor Gak Belajar", berarti si ponsel udah berkali-kali guling-guling di lumpur sambil mandi air got. Kalo boleh ambil tagline iklan depdiknas: "Wajib Belajar 9 Tahun", berarti si ponsel udah lulus SMA. Bahkan dia sedang mengenyam pendidikan tinggi di FIB UI, tepatnya Sastra Inggris. Kerjaannya review novel, cerpen, puisi, belajar morfologi, bermalam minggu sama tugas.. (loh loh kok jadi curcol) Well, intinya adalah: ponsel gue sudah banyak belajar dari pengalaman. Pengalaman apa? Pengalaman jatuh. Makanya kalo dia jatuh lagi, contohnya kayak semalem itu, gue udah gak heboh lagi. Layaknya manusia belajar dari pengalaman, demikian lah ponsel gue. Kalo ditempa terus makin lama dia bisa makin kuat bukan? Siapa tahu besok dia bisa berevolusi jadi ponsel canggih abad 22 (21 mah udah lewat). Siapa tahu kalo dipencet angka 1 bisa keluar rumah, angka 0 bisa keluar mobil, dan angka 108 bisa nyambung ke penerangan (ya iya lah dari dulu juga gitu *pletak!). Yah, biarkan dia belajar dari pengalamannya. Dan gue akan selalu mendukungnya. Tak akan pernah berpisah.

Ok, ok, gue boong. Sesungguhnya GUE BUTUH HAPE BARU! *ehm* maksud gue: GUE BUTUH PONSEL BARU!

Yeah, gue punya beberapa alasan kuat kenapa gue perlu *ehm* ponsel baru.

1. Dari sudut pandang sejarah dan pengabdian.
Bisa dibilang si ponsel adalah ponsel setia yang telah lama hadir di keluarga gue. Nyokap gue beli bener-bener pertama kali dia masih gress keluar dan itu adalah sekitar... *ehm* gue masih kelas 1 SMA. Berarti itu kurang lebih... *ehm* 5 tahun lalu! Astaga! Gue juga ngitung barusan dan cukup shocked juga. (bukan shocked karena si ponsel, tapi ternyata gue udah tua juga ya. huhu) Tentu saja nyokap gue pertama kali beli buat dipakai sendiri. Sampai suatu kali ponsel gue terdahulu rusak dan akhirnya nyokap gue beli ponsel baru. Bukan, bukan buat gue, melainkan buat dirinya sendiri juga (lah yang rusak sebenernya ponsel siapa sih?) Ponsel lama si nyokap itu pun diturunkan ke gue, tepatnya 3 tahun lalu, dengan alasan sayang-ah-si-sekar-kalo-dibeliin-yang-baru-nanti-rusak-lagi (ah bisa aja nih si mama T.T). Jadilah gue menerima ponsel turun-menurun warisan keluarga yang bisa dipastikan akan berakhir masa hidupnya di gue. Nah, logisnya 5 tahun itu kan waktu yang cukup lama untuk mengabdi. Sudah saatnya si ponsel pensiun. Kasihan juga kan dia (sebenernya sih, kasihan juga guenya T.T) Kalo ponsel gue bisa ngomong, mungkin dia akan teriak-teriak minta dana pensiunnya dicairkan. Buktinya belakangan ini dia jadi sering loncat indah. Gue tahu banget itu bentuk protes dia. Ah kasihan kau ponsel...

2. Dari sudut pandang daya kerja.
Nah, umur yang semakin tua plus bentuk protes dengan cara loncat indah macam begitu bikin kinerja si ponsel pun jadi menurun. Dan tentu saja ini bikin kinerja gue, sang pengguna, ikut menurun. Oh bukan, bukan sekedar buat buka facebook atau twitter kok. (Buat buka email juga, maksudnya. Hoho.) Yah intinya kegiatan gue yang berhubungan sama si ponsel jadi agak terganggu. Gimana gak? Lagi telpon eh tau-tau dia mati sendiri. Padahal gak ada yang minumin baygon ke dia. Atau tau-tau muncul tulisan "insert sim" di layar. Padahal simcard masih bertengger manis di dalemnya. Apa yang dia maksud itu Surat Izin Mengemudi? Kalo itu sih gue emang belum punya. Kadang-kadang si ponsel seharian anteng-anteng aja di dalam tas gue. Gue pikir hari itu gue emang kurang diinginkan dan dicari, eh gak taunya si ponsel udah mati sendiri. Huh. Yah, begitulah ponsel tua nan malang. Padahal malang kan jauh banget dari jakarta, naik kereta aja bisa seharian (loh?). Biasanya kalo gue menyampaikan curhatan ini ke nyokap gue, dia bakal bilang "sering jatuh sih". Ih mama, dibilangin dia sendiri yang loncat. Huh. (bentuk pembelaan yang gak logis). Tapi sebenernya faktor usia mempengaruhi loh. Faktor suka jatuh, suka nyebur di air, suka main-main di api, suka kelindes kereta, suka diinjek-injek sama gajah.. yah itu tuh cuma pengaruh sekian persen doank lah. Gak ngefek-ngefek amat (pembelaan diri yang makin gak logis)

3. Dari sudut pandang pulsa.
Tau gak kalo ponsel yang udah bertaun-taun dipake bisa makan lebih banyak pulsa?

Boong ding. Masa lo percaya? Duh.

Yah begitulah. Inti dari segala inti adalah sepertinya gue perlu ponsel baru. Dan sepertinya gue kudu bersabar. Yah semoga pencerahan turun pada siapa yang berkepentingan. (Baca: Nyak-Babe, beliin aye hape baru donk. Hehehe)