January 20, 2011

Kita semua suka (barang gratisan).

Dimulai dari suatu malam yang sangat random, sepupu gue, si Tio, bersama nyokapnya alias tante gue (ya iyalah) main ke rumah. Tante gue lagi ada perlu sama bokap, dan entah apa itu gue gak tahu (dan gak pingin tahu amat sih), tapi yang jelas gue ingin tahu benda berwarna hitam yang ditenteng tante gue. Sebuah tas, replika Longch**p. Modelnya doank yang sama, tapi gue tertarik. Soalnya warnanya hitam dan ukurannya gak gede-gede, gak kecil-kecil amat. Masalahnya, udah lama gue cari tas yang kayak gitu. Hitam dan berukuran sedang. Gue bener-bener ngomong tentang tas loh, bukan si Tio walaupun dia juga hitam dan berukuran sedang *alah*


Singkat cerita, gue akhirnya iseng-iseng nanya ke tante gue. "Tante, beli di mana tuh? Pingin donk yang kayak gitu." Gayung bersambut ember, tante gue excited menjelaskan, "Ini beli di temen kantor, harganya Rp ### (harga gue sensor ya. price by request. harga bersaing. hubungi saya. *alah malah jualan). Mau juga? Nanti tante pesenin deh." Ya tentu saja jiwa tukang belanja gue yang disertai dengan kebutuhan akan tas itu (yang lebih didominasi jiwa belanja sih) langsung menjawab ya. Ditambah pesan sponsor "persis kayak gini ya tante". Dan pesan sponsor pun dikumandangkan berulang-ulang bahkan saat gue menghantarkan si Tio dan tante gue itu sampe ke depan pagar. "Persis kayak gitu ya tante!" Ya ya, saya memang kadang-kadang gak tau diri.

Hari demi hari berganti, gue agak-agak lupa sama tas hitam sedang itu. Sampe akhirnya, di suatu malam yang random (lagi) yakni malam ini, si tante sms:

"Skar, tas itemnya udah ada nih. Tar tante pulang kantor, ambil ya."

Aww! Segera gue cek dompet, cek ATM yang sebenernya adalah kegiatan retoris belaka (ada gitu kegiatan retoris?) karena gue tau gue lagi gak ada duit! Oh oh *rolling eyes*. Akhirnya gue pasrah membalas sms itu:

"Aduh duitnya belum ada tante, utang dulu ya."

Utang oh utang; kata yang pertama terlintas di benak gue. Salah, sebenernya kata yang terlintas di benak gue sih "gratisan", tapi kok kesannya terlalu to the point.

Akhirnya, masuklah satu sms yang sungguh di luar dugaan (tapi masuk dalam harapan):

"Udah gpp, ambil aja gratisss"

Olala. Mungkin tante gue sekarang bisa baca pikiran orang, dan yang jelas gue gak (bakal) nolak. Hahaha. Pertanyaan selanjutnya adalah pertanyaan retoris klasik "Ah yang bener nih, tante?" yang tentu saja tidak memerlukan (dan mengharapkan) jawaban "gak". Akhirnya gue dan si tante pun smsan perihal tas hitam itu. Setelah melalui perjanjian kapan dan di mana barang bisa diambil, gue pun menutup komunikasi dua arah itu dengan doa *eh?*

Malam yang random itu ditutup dengan malam yang random ini. Dua-duanya random, dan saya dapat tas gratisan :D

3 comments:

Have any comment? Come on, I know you do! ;)